-->

Adab Bertamu Dalam Islam

Adab Bertamu Dalam Islam - Masyarakat Indonesia tidak terlepas dari keanekaragaman sukunya dikenal sebagai masyarakat yang sopan santun dan ramah, kebiasaan saling mengunjungi untuk mempererat tali persaudaraan juga merupakan hal yang lazim bagi kehidupan masyarakat Indonesia dan di dalam islam pun telah mengatur berbagai macam permasalah kehidupan dan termasuk adab bertamu.
Adab Bertamu Dalam Islam
Image: jueq.blogspot.com
Baca juga:

Tata cara bertamu

Sahabat baismi, dalam kehidupan bermasyarakat kita mengetahui adanya budaya saling mengunjungi atau bertamu. Bertamu baik itu kepada sanak kerabat, tetangga, atau pun lainnya bukanlah sekedar budaya semata melainkan termasuk pula perkara yang dianjurkan di dalam agama islam yang mulia ini karena berkunjung atau bertamu merupakan salah satu sarana untuk saling mengenal dan mempererat tali persaudaraan sesama muslim.

Namun, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tatakrama dalam bertamu harus tetap dijaga agar tujuan bertamu itu dapat tercapai dan berkaitan dengan hal itu, Al-Qur'an serta Rasulullah Saw. memberikan tuntunan bagaimana cara bertamu yang benar, diantaranya mengucap salam dan meminta izin masuk.

Ketika kita berkunjung ke kediaman seseorang, meminta izin adalah hal utama dan batas dari meminta izin tersebut adalah tiga kali. Jika lebih dari tiga kali kita tidak mendapat tanggapan maka kita harus undur diri.

Ketika meminta izin hendaklah mengucap salam dan janganlah berteriak memanggil-manggil nama. Allah Swt. berfirman yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat". (Al-Qur'an Surat An-Nuur Ayat 27).

Selain itu, terdapat dalam hadits dari Kildah bin Adham Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:

"Aku mendatangi Rasulullah Saw. lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah bersabda, 'Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan 'assalamu'alaikum', boleh aku masuk?'". (Hadits Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan).

Seperti telah disebutkan tiga kali adalah batas meminta izin begitu pulsa saat kita mengucapkan salam. Jika tidak ada jawaban berarti kita harus menunda kunjungan kita. Adapun ketika salam kita telah dijawab bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja atau juga pintu telah terbuka bukan berarti kita dapat langsung masuk, mintalah izin untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya.

Tidak mengganggu dengan ketukan

Seperti kita ketahui bahwa tidak semua rumah dilengkapi bel dan sudah menjadi kebiasaan untuk mengetuk pintu rumah yang dikunjungi. Namun terkadang keinginan untuk bertemu dengan tuan rumah membuat kita mengetuk berlebihan sehingga menimbulkan kebisingan. Suatu hadits meriwayatkan bahwasanya sahabat Annas bin Malik Radhiyallahu 'Ahnu berkata:

"Kami di masa Nabi Saw. mengetuk pintu dengan kuku-kuku". (Hadits Riwayat Bukhari).

Hadits tersebut menunjukan bahwa hendaklah kita ketika berkunjung tidak menggangu pemilik rumah karena mungkin saja mengagetkan apa lagi jika sengaja dengan tujuan untuk membangunkan pemilik rumah.

Berdiri membelakangi pintu masuk

Abdullah bin Bisyr berkata: "Adalah Rasulullah Saw. apabila mendatangi pintu suatu kaum, Beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu'alaikum... assalamu'alaikum..". (Hadits Riwayat Abu Daud).

Tidak mengintip

Saat bertamu, kita tidaklah mengintip rumah yang kita kunjungi, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits Annas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu:

"sesungguhnya ada seorang laiki-laki mengintip sebagian kamar Nabi Saw., lalu Nabi berdiri menuju kepadanya sengan membawa anak panah apanah yang lebar atau beberapa anak panah yang lebar, dan seakan-akan aku melihat Beliau mananti peluang untuk menusuk orang itu". (Hadits Riwayat Bukhari).

Menjawab dengan jelas jika ditanya pemilik rumah

Sahabat baismi, terkadang ketika kita memberi salam kepada pemilik rumah kita akan ditanya siapa, maka hendaknya kita hendaklah menjawab dengann jelas dengan menyebutkan nama kita, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu dan ia berkata:

"Aku mendatangi Rasulullah Saw., maka aku mengetuk pintu, lalu Beliau bertanya, 'Siapa?' Maka aku menjawab, 'Saya'. Lalu Beliau bertanya, 'Saya, saya?' Sepertinya Beliau tidak suka". (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

Baca juga:

Sahabat baismi, itulah pemaparan mengenai adab bertamu dalam islam. semoga dengan penjelasan ini kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sosial sehingga kita dapat menjadi muslim yang baik bukan hanya di dalam keluarga tapi juga dalam masyarakat luas dan semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.