Bunuh Diri Menentang Ketetapan Allah

Bunuh Diri Menentang Ketetapan Allah - Fenomena diberbagai negeri merupakan fenomena yang meresahkan. Namun di sisi lain cukup menggelikan jika terjadi pada masyarakat muslim karena kehidupan di dunia hanya diberikan kesempatan Allah sekali saja, maka jangan di akhiri dengan cara menentang ketentuan Allah Swt.

Jangankan bunuh diri, mengangankan kematian saja merupakan hal yang sangat dilarang dalam agama. Bagaimanapun dan dalam keadaan apapun kondisi seseorang. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:

"Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengangankan kematian karena suatu kemudharatan yang menimpanya. Kalaupun dia terpaksa menginginkan mati, maka hendaknya dia berdo'a, 'Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku". (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Bunuh Diri Menentang Ketetapan Allah
Image: larangan-islam.blogspot.com
Baca juga:

Memang biasanya saat seseorang ditimpa musibah atau kesulitan dan merasa tidak sanggup memikulnya, dia berangan-angan untuk mati, misalnya dengan mengatakan "Lebih baik aku mati saja" atau meminta kepada Allah, misalnya dengan berseru "Ya Rabb, cabutlah nyawaku dari pada menderita seperti ini". Ini bentuk keputusasaan yang sangat sering kita dengar dilingkungan sekitar kita, tentu saja hal ini dilarang dalam syari'at.

Bisa jadi musibah, mudharat, ataupun kesulitan itu justru baik bagi seseorang, seharusnya dalam keadaan seperti itu bukan mati yang diangankan namun hendaknya dia berdo'a, misalnya "Ya Allah tolonglah hamba untuk dapat bersabar menghadapi kesulitan ini".

Setelah melarang umatnya agar tidak mengangankan mati, Rasulullah Saw. memberikan solusi, bagaimana jika seseorng benar-benar terpaksa meginginkan mati. Rasulullah Saw. mengajarkan seuntai do'a "Ya Allah! Hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku".

Rasulullah Saw. membukakan untukmu satu pintu yang selamat tidak terlarang, karena sekedar ingin mati menunjukkan keputusasaan dan tidak sabaran terhadap ketetapan Allah Swt.

Berbeda halnya dengan do'a ini, terkandung penyerahan urusan hamba kepada Allah Swt. sebab manusia tidak mengetahui urusan yang gaib, diapun menyerahkannya kepda zat yang Maha Mengetahui yang gaib, memang hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi dan manusia tidak tahu. Allah Swt. barfirman yang artinya:

"Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah". (Al-Qur'an Surat An-Naba' Ayat 66).

Sahabat baismi, kita semua tidak tahu bisa jadi kehidupan itu lebih baik bagi kita dan mana tahu juga apabila ternyata kematian lebih baik bagi kita, karena itulah apabila seseorang mendo'akan umur panjang bagi oarang lain sepantasnya dia tidak mendo'akannya secara mutlak, tetapi hendaknya ada kata-kata bijak dengan mengatakan "Semoga Allah Swt. memanjangkan umurmu dalam ketaatan kepada-Nya". Dengan do'a seperti ini jadilah umur yang panjang tersebut membawa kebaikan.

Selain itu hendaknya seorang hamba berharap pahala dari Allah ketika menghadapi musibah. Kesulitan apapun yang menimpa seseorang baik berupa kesedihan, gundah gulana, sakit maupun yang semisalnya akan menghapuskan kesalahanya. Jika hamba mengharapkan pahala, niscaya akan terangkat derajatnya, lagi pula kesulitan yang menimpa seseorang tidaklah kekal selamanya tetapi akan berakhir.

Apabila musibah telah berakhir dalam keadaan kita memperoleh kebaikan karena berharap pahala dari Allah atas musibah dan kesalahan diampuni, bukankah berarti musibah itu baik bagi kita. Nabi Saw. pernah bersabda yang artinya:

"Sungguh mengherankan perkara seoarang mukmin. Sungguh semua urusanya baik. Jika dia ditimpa kesulitan dia bersabar, hal itu baik baginya. Jika dia diberi kelapangan dia bersyukur, itupun baik baginya". (Hadits Riwayat Muslim).

Sahabat baismi, ada banyak alasan sehingga orang memutuskan untuk bunuh diri, yang pasti mereka merasa putus asa dan beranggapan bahawa tiada lagi harapan untuk memecahkan aneka masalah hidup.

Kematian merupakan kepastian, tak satupun makhluk bernyawa yang luput dari kematian karena sudah ditetapkan sebagaimana dalam firman Allah Swt. yang artinya:

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati". (Al-Qur'an Surat Ali Imran Ayat 185).

Kematianpun telah ditentukan waktunya atas setiap jiwa masing-masing yang memiliki ajal sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

"Dialah yang menciptakan kalian dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (Waktu tertentu kemtian)...". (Al-Qur'an Surat Al-An'am Ayat 2).

Takkan ada satu jiwa yang dapat berlari dari ajalnya ketika waktunya sudah sudah tiba, maka mati merupakan keniscayaan diinginkan atau tidak dia pasti datang, diharapkan atau dihindari kalau sudah waktunya maka pasti tidak terelakkan. Bunuh diri dalam islam pun amat berbahaya akibatnya, sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya:

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyanyang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengann melanggar hak dan anaaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah". (Al-Qur'an Surat An Nisa'Ayat 29-30).

Mereka yang membunuh dirinya berarti berpindah dari satu azab kepada azab yang lebih pedih. Orang yang ingin bunuh diri biasanya ingin terlepas dari beban dan penderitaan yang sedang dia alami.

Maka setelah dia mati dengan bunuh diri, mereka tidaklah beristirahat dengan kematiannya, sebab orang yang bunuh diri akan di azab oleh Allah dengan azab yang sangat pedih, dia akan dimasukkan Allah Swt. ke dalam neraka jahannam. Di dalamnya dia menerima siksa dengan apa yang digunakannya untuk mengakhiri hidupnya saat bunuh diri. Dalam keadaan seperti itu dia kekal selamanya dalam neraka. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:

"Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula". (Hadits Riwayat Bukahri dan Muslim).

Lebih jelas Abu Hurairah menuturkan sabda Nabi Saw. yang artinya:

"Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Barangsiapa yang membunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka diakan menusuk dirinya pula dengan cara itu". (Hadits Riwayat Bukhari).

Dalam lainnya dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda yang artinya:

"Barangsiapa membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka dengan besi yang digenggam ditanganya itulah dia akan menikam perutnya dalam neraka jahannam secara terus-terusan dan dia akan dikekalkan di dalamnya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan meminum racun, maka dia akan merasai racun itu di dalam neraka jahannam secara terus-terusan dan dia akan dikekalkan di dalam neraka tersebut untuk selama-lamanya. Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan terjun dari puncak gunung, maka dia akan terjun ke dalam neraka jahannam secara terus-terusan untuk membunuh dirinya dan dia akan dikekalkan di dalam neraka tersebut selama-lamnya". (Hadits Riwayat Muslim).

Sahabat baismi, kita mestinya besyukur kepada Allah Swt. yang mensyari'atkan taubat kepada kita umat Muhammad Saw. dengan mengucapkan istiqfar, menyesali dosa, meninggalkanya, mengisi dengan amal kebaikan serta meminta maaf jika dosa itu terkait hak sesama, sebab ada kaum terdahulu yang syari'atnya taubatnya adalah dengan bunuh diri.

Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya sebagaimana diceritakan oleh Abdurahman bin Said bin Aslam, saat Nabi Musa a'laihissalam kembali kepada kaumnya, ada tujuh puluh orang yang beruzlah atau mengasingkan diri bersama Nabi Harun a'laihissalam, mereka tidak menyembah anak lembu seperti yang dilakukan Bani Israil lainnya.

Nabi Musa a'laihissalam kemudian berseru kepada mereka "Berangkatlah menuju jajarabb kalian". Dengan gemetar lantaran harap dan cemas mereka bertanya "Apakah kami masih bisa bertaubat wahai Musa?". Nabi yang di utus Allah Swt. untuk Bani Israil ini membacakan firman Allah Swt. yang artinya:

"Bunuhlah diri kalian. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian di sisi Rabb yang telah menjadikan kalian, sehingga Dia pun menerima taubat kalian". (Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 53).

Sahabat baismi, jika firman suci itu dialamatkan kepada kita, jika yang mendengar perintah "bunuh lah diri kalian" adalah kita, apakah yang pertama kali terbayang, apa pula respon yang serta merta kita lakukan, menolak? mungkin saja, namun tidak demikian dengan tujuh puluh orang umat Nabi Musa.

Ibnu Katsir kemudian melanjutkan kisahnya. Mereka pun mengeluarkan pedang dari sarungnya, segala jenis alat potong dan juga pisau, lalu mereka saling bunuh, ada diantara mereka yang berhadapan dengan bapaknya dan saudaranya, namun mereka tidak saling melihat dan mengetahui.

Mengapa bisa demikian? Karena Allah Swt. mengirimkan kabut sebelum mereka saling bunuh. Dalam melaksankan syari'at taubat itu, mereka saling berseru, semoga Allah memberikan rahmat kepada hamba yang bersabar atas dirinya sampai ia mendapatkan ridho-Nya.

Atas perstiwa ini, sebagian mereka terbunuh dan sebagian lainnya masih hidup. Bagi keduanya berhak atas jaminan, mereka yang terbunuh gugur sebagai Syuhada dan yang hidup diterima taubatnya.

Baca juga:

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati dan kematian itu perkara gaib yang telah ditetapkan bagi semua kita, kita pun tidak tahu seperti apa kematian datang menjemput.

Sahabat baismi, itulah penjelasan mengenai tulisan bunuh diri menentang ketetapan Allah Swt. Semoga kita mati dalam keadaan iman, islam dan husnul khatimah. Dan semoga tulisan yang singkat ini dapat memberi kita manfaat serta ilmu yang berguna bagi kita semua. Amin.

Advertisement